Einstein’s Riddle

In my first (or maybe second) week in Senior High School, a physics teacher gave the class a riddle that was made by Einstein. He said most of people, with 98% statistic, couldn’t solve the riddle. The riddle is as follow.

_START of riddle_
There are five houses sitting next to each other on a neighborhood street. Each house’s owner is of a different nationality. Each house has different colored walls. Each house’s owner drinks their own specific beverage, smokes their own specific brand of cigar, and keeps a certain type of pet. None of them share any of these variables: nationality, house’s color, beverage, cigar, and pet. They are all unique.

Here are some clues that we know:
The Englishman lives in the house with red walls.
The Swede keeps dogs.
The Dane drinks tea.
The house with green walls is just to the left of the house with white walls.
The owner of the house with green walls drinks coffee.
The man who smokes Pall Mall keeps birds.
The owner of the house with yellow walls smokes Dunhill.
The man on the center house drinks milk.
The Norwegian lives in the first house.
The Blend smoker has a neighbor who keeps cats.
The man who smokes Blue Masters drinks beer.
The man who keeps horses lives next to the Dunhill smoker.
The German smokes Prince.
The Norwegian lives next to the house with blue walls.
The Blend smoker has a neighbor who drinks water.

The question is: One of them is known to pet fishes, who does it?
_END of riddle_

The answer:
If we map all tge puzzles carefully, we will find out that the German does. He lives in house with green walls. He drinks coffee and smokes Prince. He pets fishes, as Einstein did. Einstein was German.

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Darurat Berbahasa

Lama sudah aku tidak singgah ke wordpress ini. Sawang-sawang pun bertebaran di sudut-sudut dashboard. Agaknya aku perlu melakukan sedikit beberes.

Sebelum menyusun tulisan ini, aku mengoreksi beberapa tulisanku yang sebelumnya. Yang pada saat diterbitkan, kupikir aku telah menuliskannya dengan ejaan yang baik. Namun setelah waktu berlalu dan kubaca kembali, ternyata tatanan bahasaku amburadul.

Aku juga sempat mengulik-ulik warna dan mengatur ulang dekorasi untuk mengubah suasana. Namun pada akhirnya aku kembalikan ke suasana lama. Ternyata aku masih nyaman dengan selera aku yang tujuh tahun silam. Memiliki tampilan yang less color dan no highlight picture terkesan klasik bagiku. Aku suka dengan hal-hal yang dikemas klasik, meskipun mungkin saja memiliki fitur yang modern.

Sebetulnya sedari lama aku memiliki beberapa materi untuk dituliskan di sini. Aku sudah mengonsepkan materi-materi itu dalam benak. Hanya saja aku terlalu malas untuk merealisasikannya. Godaan akhir minggu santai selalu saja sukses membuatku menunda merangkai kata-kata. Sedangkan di hari-hari selain akhir minggu aku terlalu letih. Pulang kerja inginnya langsung tidur saja. Tanpa terasa sudah hampir setahun berlalu dari sejak tulisanku yang tepat sebelum ini diterbitkan.

WordPress merupakan platform berbagi yang saat ini mulai tidak diminati umat manusia. Di saat orang-orang lebih memilih media sosial berbasiskan gambar seperti instagram dan tiktok sebagai platform berbagi, aku lebih memilih menggunakan wordpress untuk berbagi cerita panjang dan twitter untuk berbagi cerita pendek. Meski aku tetap menggunakan instagram, namun jarang.

Bagiku menulis di wordpress merupakan sarana untuk tetap mempertahankan kemampuan bahasa yang aku punya agar tetap ada pada diriku. Lucu memang, meskipun merupakan bahasa ibu, aku mulai kesulitan menggunakan Bahasa Indonesia. Karena sedikitnya kesempatan berbincang dengan lawan bicara yang juga berbahasa Indonesia.

Bahasa Inggris pun tidak dikecualikan. Malah lebih parah. Lidahku mulai kaku dan aku mulai kesulitan melafalkan kata-kata. Karena intensnya interaksi dengan orang-orang Jepang, cara mereka melafalkan kosakata Bahasa Inggris sedikit banyaknya berpengaruh padaku. Dan sayangnya, pengaruh itu bukan pengaruh yang baik.

Minggu lalu aku membeli sebuah buku, berjudul “The Official Guide to the TOEFL Test“. Buku yang diterbitkan oleh penyelenggara resmi TOEFL, yakni ETS. Aku membeli buku ini sebagai bahan persiapan untuk mengikuti ujian TOEIC yang diselenggarakan bulan depan. Lantas, mengapa malah membeli buku persiapan TOEFL bukan buku persiapan TOEIC?

Menurutku TOEFL mengukur kemampuan Bahasa Inggris secara akademik, sedangkan TOEIC mengukur kemampuan Bahasa Inggris untuk penggunaan profesional lintas negara. Aku akan mengikuti ujian TOEFL jika bukan karena biayanya yang mahal.

Pilihan jadwal TOEFL pun sedikit karena skor TOEFL tidak umum digunakan di Jepang. Sebaliknya, skor TOEIC lebih umum digunakan sebagai syarat pendaftaran kuliah, pelamaran kerja, dll. Sehingga ujian TOEIC lebih sering diselenggarakan. Biayanya juga lebih murah. Perbandingan biaya ujian TOEIC dan TOEFL kira-kira satu berbanding empat. Perbedaan yang signifikan, bukan? Untukku yang ingin mengikuti ujian dengan tujuan mengetahui kemampuan saat ini dan sebagai cambuk agar aku belajar Bahasa Inggris kembali tentu saja memilih ujian yang biayanya lebih murah.

Aku tidak mengerti mengapa Jepang lebih senang menggunakan skor TOEIC sementara di luar Jepang orang-orang menggunakan skor TOEFL atau IELTS sebagai tolak ukur kemampuan berbahasa Inggris.

Thought: Video of Tug Battle Tesla vs Ford

It has been two weeks since Tesla Cybertruck was presented. Tesla, a company that focus on electric vehicle and renewable energy, just presented their first ever electric truck which they named it Cybertruck.

The design is quite controversial. Not everyone accepts it. For me, it looks sturdy but also intimidating. It is far from what I imagined as futuristic vehicle but I do like its squared body just like I like most of Jeep cars look. As I stated before in my previous post, I love the polished bare metal look rather than painted one. Looks sturdily beautiful.

Soon after the presentation of Cybertruck by Tesla, the video spread on internet rapidly. But not as rapid as its memes. I watched a video from Marques Brownlee, a YouTube content maker who attended in the event. He was also allowed by Tesla to enter and drive with the Cybertruck. I envy him.

Another viral video, which I attached below, a video of tug battle between Tesla Cybertruck and Ford F150 which won by Cybertruck. Some people were debating that it is fake. It seems like Tesla tricked the battle for letting Cybertruck to push pedal first before F150. I don’t think so. But I do agree that the video is not comparing apple to apple. Tesla Cybertruck is 4WD, so it must be compared to 4WD version of Ford truck and both trucks must be equipped with identical tires to eliminate road traction excuses. But I am pretty sure that Cybertruck will still win against 4WD version of Ford truck in tug battle simply because of electric motor’s instant torque.

Video Cybertruck vs F150 Tug Battle

Electric motor has one advantage that internal combustion engine does not have, it is instant torque. Instant torque is the reason why recent locomotives are driven by electric motors. Electric motor accelerates better at low speed because at low speed its torque is maximum. Please take a look at torque vs rotation speed charts below. The charts show us that electric motor produces maximum torque at low rpm and the torque started even from zero rpm, while internal combustion engine (ICE) needs some amount initial rpm to output torque.



The reason why internal combustion engine cannot produce torque at zero rpm is illustrated below. At zero rpm, crankshaft must be not rotating. If crankshaft is not rotating then piston is not stroking. If piston is not stroking then there are no intake and exhaust, means no combustion, no gas is used, no power is produced, no torque.


Image Internal Combustion Engine Cycle

Now back to the tug war topic. I believe Tesla did not trick the battle. They did not let Cybertruck to push pedal first before F150. It looks like that because F150’s internal combustion engine have to reach amount of rpm before it start to pull while Cybertruck’s electric motor already started pulling since zero rpm.


An introduction of my Lynskey R260

this is a very late introduction, actually

One year has been passed since I got Lynskey R260 rim brake frame. My first road bike and also my first titanium bike (I had a steel cross bike before). Got the frame after won an auction on eBay for one third of the retail price. Actually this frame was last year stock that remained at Lynskey warehouse at that time. So they offered it as an auction.

Months before get into the auction, I had read many sources then I found myself tend to get a bike with frame that made from titanium or stainless steel rather than any other kinds of frame. But the price of those two frame successfully made me stayed away until the day I found an auction that I couldn’t resist.

I got the XS size. I was afraid the frame will be too small for me but glad that it is not. need to be mentioned that the size of the frame is in American standard since all Lynskey frame were built in USA. So the small size most likely medium for Asian.

The frame itself made from alloyed of 3% vanadium, 2.5% aluminum, and the rest is titanium. The frame has an industrial milling finish which actually is random direction brushed finish. The result make it shiny without unnecessary glossy. I love the polished bare metal look rather than painted one. Looks sturdy and beautiful. I can’t stop looking at it.

After I got the frame, I started to buy the other components. I completed the bike with full Shimano 105 R7000 group set (except for bottom bracket which is Dura-Ace, and cassette which is Ultegra), Columbus fork, Vision wheel set, pair of Continental tire, Ritchey handlebar, Selcof stem, Fizik seatpost, Selle Italie saddle, and a pair of flat mountain pedal. I didn’t find the need to use road pedals yet. Just dislike the idea to attach my shoes to the bike as I want to release myself from the bike as fast as possible when I crash. Of course I don’t want to face any crash, but just in case.

For the front rim brake, I chose black color as it matches black fork. For the rear rim brake I chose silver color as it matches polished titanium color. Small details but it is important.

The scale showed that my complete bike is about eight and half kilograms. I found it is heavier than most of carbon fiber and some of expensive aluminum frame bike with equivalent size. But I am not a weight weenie guy who always cares about being light weight. What I want is a long lasting decent bike that I can hand over to my child or even my grand child later. That was why I tend to have titanium or stainless steel as this two material has strength (and that is isotropic vs carbon that is not isotropic), rust resistant (superior vs steel), UV resistant (superior vs carbon), and comfortable to ride (superior vs aluminum frame).

I never rode other than steel bike before but really love the titanium feeling which some people mentioned it as titanium magic. Not an actual magic, titanium is well known as springy metal because it is strong and flexible enough to dampen small vibration from the road, make it more comfortable to ride.

I use this bike for daily commuting to office and I cycle 25 kilometers a day. Often enough until one day I felt like I lost my balance while walking but had no problem when I am on my bike.

I really want to make a video of my bike’t point of view while riding, but I don’t have any portable action camera yet. Once I had, I definitely will do it on Nikko hilly curve road (in Tochigi prefecture, Japan).


I like the name of the frame, R260. Letter R stands for my name initial and 26 is number I like the most.

She is beautiful, isn’t she? Her name is Mona

Ulas film: Green Room (2016)

Saya adalah orang yang cukup ribet dalam menikmati sebuah film. Hingga saat ini hanya sedikit film yang benar-benar membuat saya merasa terhibur ketika menontonnya. Saya juga bukan orang yang ngikut aja dengan tontonan apa saja yang sedang trending. Saya bahkan belum (atau mungkin tidak akan) menonton film Infinity War dan End Game karena tidak suka pada motif pemeran antagonis dan konflik yang dibangun dalam cerita yang menurut saya kekanak-kanakan, meski dua film itu trending luar biasa pada masa rilisnya.

Tahun 2017, ketika saya sedang berselancar di internet, saya menemukan sebuah film berjudul Green Room. Film ini dirilis di tahun 2016, dan mendapatkan ulasan yang cukup baik dari para kritikus film. Pada tulisan ini saya akan menjabarkan ulasan saya mengenai film ini yang murni dari saya tanpa terpengaruh penilaian dari orang lain.

Kebiasaan saya dalam menonton film yang benar-benar baru bagi saya adalah langsung menonton tanpa membaca sinopsisnya terlebih dahulu. Sehingga ketika menonton saya tidak memiliki memori atau gambaran apa pun dari cerita yang disuguhkan, dan pemahaman isi cerita akan terbangun sendirinya seiring berjalannya cerita. Saya tidak menyangka bahwa film ini ternyata menyuguhkan jalan cerita yang sangat baik.

Di awal cerita dikisahkan perjalanan band punk yang bisa dibilang tidak laku. Alur ceritanya datar dan mengalir seadanya. Hingga suatu ketika mereka terseret dalam masalah yang terjadi begitu saja, yang tidak ada hubungan dengan mereka.

Kemudian terjadilah pertikaian antar dua kelompok dengan dua tujuan sama namun berbeda arah. Sama-sama ingin mengamankan diri dan kelompok sendiri, yang berarti berbuat sebaliknya ke kelompok yang lainnya.

Banyak hal gegabah yang mereka lakukan dalam menghadapi masalah ini. Pun demikian, jika saya berada di posisi mereka, mungkin saya juga melakukan tindakan yang sama gegabahnya.


Yang disuguhkan dalam cerita tidak menyimpang jauh dari logika dan kaidah fisika sehingga membuat ceritanya mendekati cerita yang nyata. Dinamika cerita terlihat murni, sang tokoh utama tidak dominan. Sampai-sampai, hampir di separuh awal cerita saya tidak bisa menebak secara pasti siapa tokoh utama dari cerita tersebut. Berbeda sekali dengan film berjudul Interstellar, yang pada menit-menit awal saja sudah dapat ditebak siapa tokoh utamanya karena terlalu dominan.

Rating yang saya berikan untuk film ini adalah 10/10. Saya kasih tinggi bukan karena filmnya sempurna, namun karena saya tidak bisa menemukan poin negatif untuk dibahas dari film ini. Namun, apa pulalah artinya penilaian saya yang sangat awam dalam perfilman.

Film ini saya rekomendasikan untuk penonton yang menginginkan cerita dengan genre thriller namun tidak melulu mengedepankan adegan yang berdarah-darah, serta menyuguhkan dinamika cerita yang natural.

Sudahkah Anda menonton film ini? Bagaimana ulasan Anda mengenai film ini?

Gambar imdb.com/title/tt4062536


Apakah Anda memiliki rekomendasi film yang bagus untuk saya tonton? Ataukah ada film yang Anda ingin saya ulas?

Halal food culinary: Shinjuku-Gyoen Ramen Ouka

I had a chance to have a dinner at Shinjuku-Gyoen Ramen Ouka. This restaurant is quite far from JR Shinjuku Station. About twenty minutes walking. But the taste is worth the distance.

Entrance door of the restaurant was really heavy as stated on the door. At first I thought the door was locked but it was not.

If the restaurant is not crowded, there will be a waitress ready to explain everything on the menu directly to you if it is your first time in the restaurant. They just sell set menus and all the menus are halal and some menus are also vegan friendly.

They sell wagyu ramen set that cost around 10000 JPY. I did not ordered wagyu that time as I did not want to spend that much money. But I was told all things about their wagyu. They get the wagyu from a farm which is current champion (first winner) of wagyu championship in Japan. But I forgot the name of the farm. The wagyu championship in Japan is held once in five years, and they won it in 2017.

If you do not know what wagyu is, imagine it as meat of a happy cow. Cow that got extra special attention and treatment from its farmers. Made the cow healthy physically and mentally. The happy cow then produce uniquely marbled soft texture meat. That is why wagyu has a high price tag.

They also sell chicken ramen set which cost around 2000 JPY. I ordered one with fish soup and without spicy level as I wanted to taste the original taste. Vegetable soup option is also available as well.

If you are spicy food lover, you will feel grateful adding some spiciness to your ramen. There are 10 levels of spiciness available. For the highest level 10, special chili from India named bhut jolokia is used. Spicy level 3 they claimed to be as spicy as Indonesian food. But I  highly doubt it. Japanese often overrate the spiciness. What they think spicy often is not spicy at all to me. So I think Indonesian spicy lies on level 5 at least.

The set was served well. A bowl of ramen + chicken + tsukune (Japanese chicken meatball) + half boiled egg + vegetable + rice + soy sauce to be eaten with tsukune. They recommend to eat the noodle first, if it is not enough, pour the remaining ramen soup to the rice and eat the rice with ramen soup.

The taste was delicious. Sorry I was so hungry so I ate immediately and took the photo on the halfway of my meal.


I finished my meal with nothing left, as usual. One of the waitress came and talked to me, said that she did not expect me to eat until that clean because I ordered with large size option and I am just a skinny boy. Oh, if you see me eat for the first time, you probably be surprised. She then gave me a thank card.

At the end of meal they serve desserts. I got dorayaki matcha and organic tea imported from France that they claimed is good for belly.


There was also a waitress that came from the same country as me, Indonesia. Her name is Ayu. She is now studying in Japan. If you go to link provided in ‘more about the restaurant’ below and play an attached youtube video by Ouka TV Tokyo, the girl who wear black hijab in the video was her.

Location Shinjuku 1-11-7, Sinjuku, Tokyo
Website m-ouka.com

Halal food culinary: Mazilu Lanzhou Beef Noodle

Despite how much I dislike to live in Tokyo which I had described here. I have to visit Tokyo sometimes for some purposes. The last time I visited Tokyo was the last day of the last month, for a full day.

I decided to explore some halal ramen during my period in Tokyo. I had been browsing all halal ramen restaurant around Tokyo two days before my departure to Tokyo, then decided two of them to serve me lunch and dinner meal. One of those two was Mazilu Lanzhou ramen restaurant, a Chinese cuisine, near Jimbocho station. I was so excited about Chinese noodle since I never tasted any of it before.

I arrived in front of the restaurant at lunch time around twelve o’clock. And guess what, about ten people were standing in line waiting their turn to enter the restaurant, and behind me already there about five people, but I just arrived and stood there. A little upset for me. If only I knew this restaurant has this long queue, I probably already chose and explored another halal ramen restaurant. But since I had arrived and trying to find another halal restaurant will probably need longer time than waiting in front of this restaurant, as I had described how hard to find halal restaurant in Japan here. Then let me find out what magical taste that make so many people coming.

This restaurant has only one menu that cost 880 JPY for basic. You can order additional beef and basil but sure with additional price. There are three types of noodle available. Standard type, long thin circular profile, like ordinary noodle. Kishimen type, looks like a thin long tape. And sankaku type, which has three angular shape.

I ordered standard noodle type with all additional that offered to me. I was asked whether I want the ramen served with rayu (chili oil) or not, but I requested to serve it separately. I also requested for large size ramen but unfortunately they just serve one standard size. Okay, they serve only one menu, only one size, but have this much liker.

The kitchen is separated by a clear glass so customer can see the art of making noodle performed by the chefs (they make the noodle in restaurant). Furthermore, since the customers are able to see the making process of the noodle, it makes clean and hygienic impression.

The ramen arrived faster than I expected. It has clear soup that contains thin beef broth with many beef slice and beef mince on top. Tasted great.

The only thing that bothered me was my poor chopsticks skill which caused some soup dropped to my shirt. I suddenly regretted to not ordered triangular type one so I did not have to slurp the noodle and able to use spoon safely.


suggest you, when you do culinary, especially noodle, do not add any ingredient and eat it as it was served for half of the bowl. The other half is up to you, you can add chili, salt or anything you like. Because the essential of culinary is to explore a new original taste, not your taste.

I recommend this restaurant to they who love thin and traditional taste noodle, especially beef taste. This restaurant is the best in offering traditional beef taste without too much additional ingredients.

Location Kanda Jinbocho 1-3-18, Chiyoda, Tokyo
Working hour 11.00-15.00, 17.00-20.30

I do not like to live in Tokyo

Living in Tokyo, for me it is comparable to living in Jakarta. I am not a person who want to live in a big city like Tokyo. There are several reasons that make me stay away from Tokyo.

Too crowded
In Tokyo, having a vehicle is not a good idea. You will never be able to throttle your car fast enough, your call will not be able to run, just walk. And finding a parking slot in Tokyo is difficult. Even if you find one, it cost more. Using public transportation is also not a good idea but slightly better than using a car.

Rush hour
This probably is my number one reason to stay away from Tokyo. Have you tried to get in a train in Tokyo in rush hour? Everybody walk so fast. You can barely change your walk direction. And it can be much worse if you are bringing big luggage.

Do not even think you will get a seat in the train. Even getting space for standing is so hard. Sometimes, the ekiin (station attendant) have to push hard customers so the train door be able to close.

High price rent
An ordinary thing in big city. High price rent just for a small single room.

High price daily products
Another ordinary thing in big city.

Dirtier air
Every time I visit big city like Tokyo, my nose collects more booger (in Bahasa: upil) than usual.

Cannot use my road bike
I use a roadie for commuting. Tokyo is too crowded so I will not be able to go fast with my road bike.

I am glad I am living in a city but also inaka (there are ricefields and farms here). Lively place located just about two hours by train (or fifty minutes by Shinkansen) from Tokyo. I am not living in Tokyo, but sometimes if I have a necessity to go to Tokyo, I will not spend much time and money to get there.

Kesalahan-kesalahan lagu Berbahasa Indonesia

Aku tidak jarang memikirkan makna dari lirik lagu. Beberapa lagu menurutku aneh jika dipikirkan artinya. Aku akan mengecualikan lagu-lagu yang terlalu puitis seperti lagu-lagu karya Nazril Irham (Ariel) yang mana hanya dia human being yang paham artinya. Berikut adalah lagu-lagu yang menurutku punya arti lucu.

Lagu: “Ribuan hari aku menunggumu, jutaan lagu tercipta untukmu, apakah kau akan terus begini?” – Itu Aku, oleh Sheila on 7.
Komentar: Kalau dipikirkan, si penyanyi setidaknya harus menciptakan 101 lagu perhari agar dalam 9-ribuan hari bisa tercipta 1-jutaan lagu untuk membuat kutipan lirik di atas menjadi benar.

Lagu: “Ambilkan bulan, Bu. Ambilkan bulan, Bu. Yang slalu bersinar di langit.” – Ambilkan Bulan Bu, oleh A T Mahmud.
Komentar: Ini tidak benar, karena Bulan tidaklah bersinar, melainkan hanya memantukan cahaya dari matahari.

Lagu: “Pulangkan saja aku pada ibuku, atau ayahku.” – Hati yang Luka, oleh Betharia Sonatha.
Komentar: Kalimat ‘atau’ di sini mengindikasikan salah satu, yang selanjutnya disimpulkan bahwa ibu dan ayahnya sudah tidak lagi bersama. Jika masih bersama seharusnya menggunakan kata ‘dan’. Lalu sekarang yang nyanyi sedang minta pisah pada suaminya. Kok kayak sifat turunan ya.

Lagu: “Orang pun datang, dan akan kembali. Kehidupan kan jadi satu. Di kehidupan yang kedua akan menjadi lebih indah. Siapakah yang dapat melaksanakan, sekarang berusaha mewujudkannya.” – Dragon Ball opening song.
Komentar: Dunia ini hanyalah persinggahan. Kita harus berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik di akhirat.

Simak kedua lagu berikut.
Lagu1: “Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak.” – Dragon Ball opening song.
Lagu2: “Jalan panjang menuju langit biru, tiba-tiba kulihat seorang anak, yang menemukan harta karun di dalam sana.” – Chibi Maruko-Chan opening song.
Komentar: Aku menduga anak yang disebutkan di dua lagu barusan adalah anak yang sama. Petunjuk pertama yaitu sama-sama perjalanan menuju langit. Petunjuk kedua yaitu satu sedang mencari, yang satu sudah menemukan. Petunjuk ketiga, anime Dragon Ball rilis lebih dulu dari Chibi Maruko-Chan. Jadi kesimpulannya si anak pergi ke langit mencari suatu jawaban, setelah ditemukan ternyata jawabannya itu berupa harta karun.

Lagu: “Bagaikan langit di sore hari, berwarna biru sebiru hatiku.” – Bagaikan langit, oleh Melly Goeslaw.
Komentar: Langit sore kan berwarna jingga kemerahan.

Lagu: “Namun bila saat berpisah tlah tiba, izinkanku menjaga dirimu, berdua menikmati pelukan diujung waktu.” – Akad, oleh Payung Teduh.
Komentar: Asumsiku ‘saat berpisah’ itu maksudnya adalah kematian. Sebenarnya aku lebih terima jika kata ‘tlah’ diganti dengan kata ‘kan’. Kalau menggunakan kata ‘tlah’ berarti sudah wafat, sedangkan menggunakan kata ‘kan’ artinya usia senja.

Lagu: “Tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu.” – Surat Cinta untuk Starla, oleh Virgoun.
Komentar: Aku tahu bahwa lirik ini menggunakan majas hiperbola. Namun akan lebih sesuai jika kata ‘habis’ diganti dengan kata ‘cukup’.

Lagu: “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya. Begadang boleh saja kalau ada perlunya.” – Begadang, oleh Rhoma Irama.
Komentar: Inkonsistensi antara penggunaan kata ‘arti’ dengan kata ‘perlu’.

Lagu: “Mungkinkah kita kan slalu bersama walau terbentang jarak antara kita?” – Mungkinkah, oleh Stinky.
Komentar: Sebenarnya pertanyaan ini adalah sia-sia, karena premis ‘terbentang jarak antara kita’ artinya terpisah dan tentunya bertentangan dengan ‘slalu bersama’.

Lagu: “Ada yang benci dirinya, ada yang butuh dirinya, ada yang berlutut mencintainya, ada pula yang kejam menyiksa dirinya.” – Kupu-Kupu Malam, oleh Titiek Puspa.
Komentar: Pertama kali aku mendengar lagu ini, kupikir kupu-kupu malam itu adalah perempuan baik-baik yang hidupnya penuh dera dan siksa. Dia menemukan seseorang yang sangat mencintainya namun tak bisa bersama. Ya, waktu itu aku tidak tahu arti dari kupu-kupu malam. Setelah tahu, aku mengherankan laki-laki seperti apa yang berlutut mencintai itu.

Lagu: “Akulah para pencari-Mu Ya Allah, akulah yang merindukan-Mu Ya Rabbi.” – Para PencariMu, oleh Ungu.
Komentar: Kontradiksi di sini, kata ‘aku’ mengindikasikan subjek tunggal, sedangkan ‘para’ mengindikasikan jamak. Seharusnya kata ‘aku’ diganti dengan kata ‘kami’.

Lagu: “Mengapa aku meski duduk di sini, sedang kau tepat di depanku. Mestinya aku berdiri, berjalan ke depanmu. Kusapa.” – Lagu untuk Sebuah Nama, oleh Ebiet G Ade.
Komentar: Si cewek tepat di depan yang nyanyi. Lalu yang nyayi berdiri dan berjalan ke depan si cewek. Kok ribet ya.

Lagu: “Pernah aku melihat musik di taman ria, iramanya melayu duhai sedap sekali.” – Terajana, oleh Rhoma Irama.
Komentar: Logikaku mengatakan bahwa musik itu didengar, bukan dilihat.

Lagu: “Aku rela berpisah demi untuk dirimu, semoga tercapai segala keinginanmu.” – Pergilah Kasih, oleh Chrisye.
Komentar: Kata ‘demi’ dan kata ‘untuk’ memiliki arti yang sama, tidak perlu dua kali.

Lagu: “Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember.” – Desember Kelabu, oleh Yuni Shara.
Komentar: Angin itu tidak meniup namun berhembus atau bertiup. Jika ingin memaksakan kata kerja aktif pada angin bisa dipilih kata menerjang.

Lagu: “Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku.” – Eeeaa, oleh Coboy Junior.
Komentar: Seharusnya bukan ‘di hadapanku’ namun ‘ke hadapanku’. Analogikan dengan dua kalimat berikut. “Jatuh dari tangga di lantai” dan “Jatuh dari tangga ke lantai”.

Lagu: “Cahaya hatiku, yakinlah kekal abadi selamanya.” – Masih, oleh Ada band.
Komentar: kekal / abadi / selamanya, pemborosan kata.

Lagu: “Bintang kecil di langit yang biru.” – Bintang kecil, oleh Meinar Louis.
Komentar: Warna langit (space) adalah hitam, bukan biru.

Terakhir lagu yang paling tidak masuk akal menurutku.
Lagu: “Kuingin tahu siapa namamu, kuingin tahu di mana rumahmu, walau sampai akhir hayat ini.” – untitled, by anonymous.
Komentar: Segitu penasarannya akan nama dan alamat, sampai-sampai gentayangan begitu.

Banyaknya notifikasi suara di Jepang

Postingan ini merupakan kelanjutan dari postingan saya mengenai lampu lalu-lintas di Jepang. Buat yang ingin membaca bisa akses di sini.

Di Jepang itu apa-apa ada notifikasi suara. Entah itu di gerbong kereta api, mesin tiket, toko-toko perbelanjaan, perempatan lalu lintas, mesin kasir, mesin ATM, dan lain-lain.

Notifikasi suara memang dibutuhkan sih, contohnya notifikasi suara pemberhentian selanjutnya di gerbong kereta api. Terlebih lagi bagi orang yang tunanetra, pasti sangat terbantu dengan adanya notifikasi suara tersebut. Namun, menurut saya orang Jepang sendiri memang senang dengan suara-suara sehingga apa-apa di Jepang harus ada suaranya, dan menurutku  agak berlebihan.

Jika kamu sedang berada di Jepang, cobalah datang ke tempat-tempat perbelanjaan. Maka kamu akan menemui hal-hal berikut.

Pertama, karyawan toko yang teriak
Begitu masuk ke dalam toko, karyawan toko akan teriak “irasshaimase” ke arah kamu. Seolah-olah jika tidak begitu si calon pembeli tidak akan senang dan kehilangan mood berbelanja.

Kedua, teriak-teriak saat ada diskon
Jika kamu sedang jalan-jalan di suatu mall dan sedang ada diskon atau opening store, karyawan-karyawan toko akan berdiri di depan toko dan berteriak memberitahukan event ke orang-orang yang lewat. Biasanya karyawan perempuan dan dengan high pitch kayak pengisi suara di anime-anime.

Ketiga, toko barang elektronik
Di toko semacam ini suara karyawan yang teriak-teriak digantikan dengan suara rekaman lewat speaker yang biasanya diletakkan di samping produk yang bersangkutan. Ini akan ramai sekali karena hampir setiap produk ada speaker yang mempromosikan produk tersebut, dan berulang-ulang. Padahal di atap juga ada speaker yang menyuarakan lagu atau pengumuman toko.

Keempat, eskalator
Di eskalator-eskalator biasanya terdapat speaker yang selalu menyampaikan peringatan “Kochira ha esukareta desu, ashi moto ni gochuin kudasai” yang artinya “Ini adalah eskalator, tolong perhatikan langkah kaki Anda”. Berulang-ulang.

Saya pernah terpaksa menginap di bandar udara Haneda karena kehabisan jadwal kereta api, dan sepanjang malam saya mendengar peringatan dari eskalator seperti yang saya contohkan di atas. Bahkan setelah saya meninggalkan Haneda dan hari telah berganti pun kalimat peringatan di eskalator itu masih terngiang-ngiang di telinga saya.

Kelima, jual rekaman bunyi-bunyian
Di toko elektronik juga dijual rekaman bunyi-bunyian air mengalir, burung bernyanyi, atau suara serangga yang biasanya terdengar di hutan.

Saya pernah mengunjungi suatu museum di kota Nagoya, Jepang. Di museum itu terdapat mekanisme berupa potongan bambu yang didesain untuk menampung air mengalir. Bila potongan bambu tersebut telah terisi air seberat tertentu, maka potongan bambunya akan terbalik dan menumpahkan seluruh air yang ditampungnya ke dalam sebuah kolam. Setelah itu potongan bambu tadi akan berbalik kembali ke posisi semula untuk kembali menampung air. Namun, ketika berbalik kembali itu, bambu  kosong menumbuk sebuah batu dan berbunyi. Saya yakin yang pernah menonton anime atau film asal Jepang mengerti yang saya maksud.

Saya bertanya pada petugas museum. Mengapa airnya tidak dibiarkan langsung mengalir ke kolam tanpa perlu ditampung di bambu dulu. Petugas museumnya menjawab begini, kalau seperti itu kita tidak akan mendengar bunyi bambunya. Di situlah saya mengerti bahwa yang mereka inginkan adalah bunyi bambu tersebut. “Kimochi ii” katanya.

Memang syahdu mendengarkan bunyi-bunyi alam seperti air mengalir atau dedaunan pohon yang bergesek menari ditiup angin. Saya pun suka. Namun saya tidak suka jika bunyi-bunyi itu adalah hasil rekaman.

Keenam, pachinko
Jika kamu berkunjung ke Jepang cobalah sekali saja masuk ke tempat pachinko (semacam permainan ding dong) dan berkeliling sebentar. Pachinko itu sangat bising. Setiap mesin ada suaranya. Banyak orang Jepang memainkan pachinko dengan dalih mereka membutuhkan waktu sendiri dan menjauhkan diri dari kesibukan. Tapi, di tempat yang sebising itu?